Bagaimana Pemikiran Mati

Fathur Hidayattullah
4 min readJan 22, 2021

--

Kenapa semua hal itu bisa terjadi?

Kekisruhan algoritma maya, media sosial, dan perpolitikan bangsa menimbulkan tanda tanya bagiku. Bukankah setiap penciptaan pasti ada suatu alasan dibaliknya? Bukankah setiap kesenjangan pasti ada bentuk metafora akan superior dan inferior? Bukankah kita selalu memiliki pemikiran untuk menjadi manusia? Mari kita diskusikan!

‘Cogito Ergo Sum’

Sebuah nubuat yang dicetuskan oleh René Descartes akan konsep berpikir yaitu ‘aku berpikir maka aku ada’.

Sederhana, tetapi berhasil memanifestasikan akan ilmu-ilmu yang masih dipertanyakan. Descartes memiliki pemikiran bahwa segala hal yang melakukan interaksi dengan indera manusia perlu untuk diragukan dalam upaya mencapai kepastian. Konsep kesangsian metodis: segala sesuatu dapat diragukan akan memberikan kita kesimpulan bahwa satu-satunya yang tidak diragukan lagi adalah bagaimana kita berpikir.

Ketika kita meragukan sesuatu maka akan terdapat hal lain yang tidak dapat disanggah kebenarannya yaitu bagaimana kita sedang berpikir saat itu. Entitas subjek — manusia — adalah yang menjadi dasar pemikiran bahwa hanya ‘dia’ yang tidak dapat disangkal.

Berpikir artinya kita menyadari, meragukan, menyadari, berimajinasi, menguatkan, menolak, dan bersikap. Berpikir membangunkan esensi dari pikiran dimana pikiran pasti selalu berpikir.

Melalui pengantar ini, dasar dari berpikir akan menghasilkan pemikiran yang dibentuk dari proses meragukan, menimbang dan membayangkan melalui cara radikal, koheren dan komprehensif.

Hal inilah yang menjadi tantangan pada era sekarang terkhusus pemuda-pemuda yang telah berperang dengan media informasi yang merajalela untuk menggapai rating demi keuntungan. Revolusi untuk kehidupan selalu berjalan waktu demi waktu, namun perabadan manusia untuk memiliki intelektual yang tinggi tidak berjalan secara paralel. Kebutuhan manusia berhasil mengikis sedikit demi sedikit keidealan untuk mencapai hakikat pemikiran merdeka.

Maka dari itu, aku mencoba memberikan hipotesis yang mungkin belum teruji kebenarannya tetapi dapat kalian pratikkan dan rasakan kebenarannya.

Bagaimana Pemikiran Mati

Pemikiran manusia itu layaknya kita bermain puzzle dengan segala kerumitan yang hadir, tergantung dari setiap tingkatan yang pernah kita hadapi — pengalaman. Perkembangan pemikiran akan selalu berjalan namun kecepatan pergerakan bergantung dari bahan bakar yang kalian beri. Tuntunan untuk memiliki pemikiran yang ideal sebenarnya tidak ada tetapi lambat laun kita akan membutuhkan.

Situasi dan kondisi sekarang telah melahirkan para pembunuh yang secara kita tidak sadari akan mematikan pemikiran kita. Ia — pemikiran — tidak bersalah sama sekali atas tindakannya. Tanggung jawab penuh berada di raga dan jiwa kita untuk menjaga dan mengembangkannya. Bagaimana karakteristik disaat para pembunuh yang akan berhasil membunuh pemikiran kita, sebagai berikut:

  1. Rasionalitas intelektual hanya bersumber pada satu muara.

Kemampuan intelektual meliputi akal dan pikiran kita itu sudah berhasil dikendalikan ataupun dimanpulatif oleh suatu mekanisme yang berjalan. Maka sebenarnya pemikiran rasionalitas kita sedang diracun dan akan mati perlahan-lahan. Pemberian sumber pemikiran yang dibatasi kebenarannya ataupun informasi yang hidup tidak benar-benar utuh hanya akan menjadikan manusia cacat dalam berpikir.

Rasionalitas yang bermuara hanya pada satu sumber, tidak akan pernah-pernah mencapai kebenaran yang absolut. Pembatasan ini membentuk segmen-segmen kebenaran yang ujung-ujungnya mencederai toleransi, demokrasi dan kebenaran yang ‘benar’ itu sendiri. Sadari dari awal bahwa kita tidak sedang diarahkan menuju ke mode berpikir yang hanya berfokus pada satu muara.

2. Menuhankan ideologi kepentingan.

Ideologi sebagai sesuatu yang dijadikan pandangan hidup dalam menjalani hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara haruslah tidak berbenturan dengan semangat kemanusiaan yang sudah tumbuh sejak manusia ada. Berideologi sebagai manusia tetap memiliki adab yang dijadikan tolak ukur untuk bersikap dan mengambil keputusan. Menuhankan adalah refleksi bahwa sesungguhnya kita sudah kalah, sudah tidak bisa bertahan, dan sudah tidak ada kesempatan dari awal.

Cara seperti ini akan selalu ada bahkan hidup berkoalisi. Pembiasaan bagi kita untuk lebih melihat secara universal itu sangatlah penting. Segala sesuatu untuk mencapai kepentingan tertentu adalah bentuk yang mencirikan manusia itu memiliki pemikiran. Namun, pemikiran seperti itu tidak sehat karena bisa membuat punah pemikiran orang lain secara sepihak.

3. Kebenaran dan kejelasan tidak mampu merdeka.

Kebenaran dan kejelasan dipenjara oleh kelompok-kelompok yang membentuk distraksi dalam berpikir. Hakikat manusia adalah mencapai kebenaran untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani nya. Tindakan merabunkan atau bahkan membutakan kebenaran dan kejelasan adalah bentuk menjajah pemikiran kita. Penyebabnya bermacam-macam. Salah satunya adalah berhasil menguasai media informasi untuk kebutuhan pribadi.

Selain itu, sikap berada disituasi nyaman menjadikan manusia tidak dapat membedakan sesuatu yang benar dan salah. Ini yang menjadi krusial karena terjadi gap analisis untuk kemampuan kita dalam berpikir dalam rangka menghasilkan pemikiran. Kondisi seperti ini membuat kita menjadi orang yang selalu akan terbawa arus dan terombang-ambing — hilang arah akan suatu kebingungan. Parahnya, akibat kondisi itu kita tidak tahu bahwa kita sedang bingung bahkan sedang dalam kondisi yang salah. Mengerikan.

Bagaimana Pemikiran Mati adalah keresahan pribadi akan ketakutan saya terhadap umat manusia yang hidup tidak tahu sampai kapan. Memiliki pemikiran adalah privilege setiap manusia dan yang menjadikan mereka istimewa. Maka dari itu, saya seakan memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan kepada semua para pembaca supaya dapat ditanggapi, diragukan, dan dibenarkan.

Sesungguhnya pemikiran hanya akan mati jikalau kalian sendiri yang menginginkan ia mati. Ia — pemikiran — hidup abadi serta terus beregenerasi bersama lingkungan dan interaksi sosial yang kalian temui.

Mochamad Fathur Hidayattullah

Palembang, 22 Januari 2021

17.05 WIB

--

--

No responses yet