Aku dan Mehmed II.
Hari raya Idul Adha jatuh pada tanggal 31 Juli 2020 Masehi. Kaum Muslimin melaksanakan salah satu bukti ketakwaan terhadap Allah swt yaitu melaksanakan ibadah kurban. Namun, di hari bahagia ini saya malah jatuh sakit. Tubuh terasa panas, tenggorokan sakit, dan nafsu makan hilang. Suasana sukacita yang harusnya dinikmati malah harus rela berbaring di kamar tidur dengan ditemani Netflix.
Serial Netflix tertuju pada Rise Of Empires Ottoman. Sebuah serial historical yang mengisahkan penaklukan Kota Konstantinopel — Ibu kota Romawi Timur (Byzantium) — oleh Kesultanan Turki Usmani dibawah pimpinan Sultan Mehmed II atau dikenal dengan nama Sultan Muhammad Al-Fatih. 29 Mei 1453.
Saya sendiri tidak tahu mengapa pilihan hati jatuh pada serial ini. Rekomendasi pada Netflix menunjukkan serial ini. Saya sendiri pun menyukai film yang memiliki makna historis terutama berkaitan dengan sejarah islam.
Saat menonton serial ini saya sangat kagum akan keberanian dan keyakinan Sultan Mehmed II. Bagaimana tidak kagum, saat di umur 19 tahun ia sudah diangkat menjadi seorang sultan. Lalu, diumur 21 tahun ia sudah berhasil menaklukan Kota Konstantinopel, sebagai pusat kota perdagangan dunia saat itu dengan seluruh armada angkata perang — darat maupun laut — yang sangat kuat.
Saya sebagai seorang pemuda yang seumuran dengan dia kala itu sangat malu dan tertegun. Saya pun bertanya-tanya pada diri sendirii.
Apakah mungkin saya bisa melakukan hal yang sama seperti Mehmed II?
Ragu memukuli logika dengan segala hal yang merasuki pikiran. Betapa naif jika harus disandingkan dengan seorang sultan. Tetapi baik aku ataupun Mehmed II dikala umur 19 tahun memiliki kesempatan yang sama di mata Tuhan. Saya mencoba membangun kepercayaan atas logika yang saya pegang. Tuhan tidak pernah membedakan hamba-Nya kecuali atas dasar takwa.
Mulai muncul buah pertanyaan atas semua tanda tanya yang membuat saya ingin menciptakan suatu langkah.
Jikalau Sultan Mehmed II berhasil menaklukan kota terbaik di dunia saat itu.
Apa yang membuat cita-cita itu dapat terwujud seakan memegang ‘Apel Merah’ dengan kedua tangan menengadah ke arah kiblat menjadi sebuah kenyataan?
Saya berusaha mencari benang merah disetiap langkah kebijakan yang diambil oleh sultan. Mempelajari literatur sejarah kebangkitan bangsa Turki, ‘Impian Osman’ sebagai sultan pertama Kesultanan Turki Usmani, dan riwayat hidup Sultan Muhammad Al Fatih.
Saya menemukan jawabannya.
Sungguh jawaban ini membuat saya merasa bangga menjadi seorang manusia yang berpikir.
Keyakinan atas takdir dan visi kebenaran tertinggi (kongkret dan ambisius).
Sebuah hadist Rasulullah pernah berbunyi jauh sebelum pembebasan Kota Konstantinopel.
“Sesungguhnya akan dibuka Kota Konstantinopel, sebaik-baik pemimpin adalah yang memimpin saat itu, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan perang saat itu.” (HR. Imam Ahmad 4/235, Bukhori 139).
Sebagai seorang muslim, tentu kita mempercayai bahwa ucapan Nabi Muhammad SAW memiliki kebenaran yang absolut. Tidak ada yang bisa mengadili atau mencari kecatatan atas hal itu.
Nilai ini yang dipegang oleh Sultan Mehmed II. Beliau sejak kecil sudah ditanamkan akan keyakinan takdir bahwa kota itu akan ditaklukan oleh kaum muslimin dengan pemimpin dan pasukan sebaik-sebaik saat itu. Lingkungan tempat ia tinggal baik dari guru maupun ayahnya sendiri memberi ilmu ini supaya dalam diri — Sultan Mehmed II — timbul semacam rangsangan untuk menggapai tujuan itu.
Akibat keyakinan atas takdir itu, Sultan Mehmed II membuat sebuah visi untuk penaklukan kota Konstantinopel. Beliau berusaha keras untuk merealisasikan visi itu; belajar dari kesalahan pendahulu saat berperang melawan Romawi Timur, meminta nasihat dari para ulama, dan mendekatkan diri kepada Tuhan untuk memohon petunjuk. Visi tersebut dikembangkannya menjadi sebuah langkah-langkah strategis yang harus ia lakukan dalam kurun waktu 2 tahun sebelum pembebasan Kota Konstantinopel.
Aku dan Mehmed II
Kisah pembebasan Kota Konstantinopel oleh Sultan Mehmed II atau dikenal Sultan Muhammad Al Fatih membuat raga dan jiwa saya bergejolak. Saya sebagai seorang pemuda dipaksa untuk berpikir dan mencoba menarik buah pemikiran yang dilakukan oleh Sultan Mehmed II.
Sultan Mehmed II berhasil memanifestasikan semua harapan-harapan pendahulunya atas dasar keyakinan takdir yang sudah ia yakini sebelumnya.
Keyakinan atas takdir keberhasilan ini membuat ia berhasil menciptakan visi hidup kongkret dan ambisius.
Ia berhasil memanipulasi keraguan setiap orang disekitarnya dengan sebuah langkah nyata atas dasar keyakinan. Kegagalan sudah tidak ada di dalam kamus hidupnya. Kepercayaan dan keyakinan yang ia pegang secara teguh membuat dirinya menjadi seorang pemimpin yang berani dan berkorban.
Saya disini mencoba untuk mengimplementasikan kisah ini terhadap konteks hidup duniawi sekarang — abad modern. Keyakinan atas takdir yang disertai dengan visi kongkret dan ambisius mampu menciptakan khalayan mimpi menjadi suatu realita yang didambakan.
Keyakinan atas takdir keberhasilan membuat kita — manusia — akan bergerak. Hal itu menjadikan stimulan bagi pemikiran dan perbuatan untuk suatu hal yang menuju kesuksesan. Keyakinan membuat kita akan berkerja keras untuk menggapai mimpi yang kita tuju. Melalui sebuah visi, keyakinan tersebut akan dibuat lebih kongkret dan ambisius sehingga dalam pelaksanaannya lebih terprogres dan terencana.
Apabila diizinkan berdialog denganmu — Sultan Mehmed II. Saya ingin sekali berbicara perihal bagaimana kau sangat yakin untuk takdir yang kau jalani. Saya sebagai manusia tidak berani untuk bersikap angkuh dan nyata terhadap semua yang keadaannya belum terjadi. Mungkin kau menganggap keangkuhan dan kenyataan saya sebagai sebuah kelemahan. Tetapi saya melihat kau bisa mengubahnya menjadi suatu kekuatan.
Kekuatan yang kau miliki sebagai bentuk takdir atas dasar sebagai seorang pemimpin. Zaman sekarang semua orang memiliki kesempatan yang sama atas nama demokrasi. Mungkin beban pemimpin kau tanggung sendirian dulu. Tetapi sekarang semua memiliki harapan dan kesempatan yang sama untuk menjadi seorang pemimpin.
Bagaimana cara diriku sebagai manusia modern memiliki keyakinan atas takdir yang jelas dan kuat untuk mencapai tujuan yang aku impikan?
Sayang sultan kau sudah tiada. Jawaban ini masih aku harus cari sendiri.
Sekian.
Mochamad Fathur Hidayattullah
01 Agustus 2020
21.13 WIB